Pada zaman pemerintahan SOEHARTO tepatnya di akhir tahun90an aku
baru saja berhenti bekerja
dan pada saat itulah aku bertemu teman baru yang dikenalkan teman
sekerja dan kami sering bermain2 singkat cerita kamipun menjadi akrab saya tak
menduka teman baru saya itu ternyata bekerja di batam sedangkan saya dijakarta
karena jarang sekali orangn jakarta bekerja/merantau,karena umumnya banyak
orang luar jakarta datang kejakarta mencari pekerjaan,tapi dari situlah awal
saya terdampar dan menetap dibatam,pada prinsipnya saya hanya mencoba mencari
peruntungan semata....hari demi hari minggu demi minggu bahkan tahun demi tahun
saya belum mendapatkan hasil yang saya harapkan,tapi entah kenapa saya masih
kerasan sekalipun sudah banyak saran dari keluarga agar pulang kejakarta dan
berkumpul lagi seperti dulu.
Dan akhirnya pada tahun 92/94 tempat yang mana saya dilahirkan dan
dibesarkan terkena gusuran yang sekarang menjadi pelabuhan petikemas yang
katanya TERBESAR di asia.
dan yang saya sesali adalah semudah itu pemerintahan mengeksikusi
penduduk yang sudah sekian lama lahir dan besar disana
dan sekarang sayapun jadi terdampar di batam tapi alangkah naifnya aku,bila menyesalkan sesuatu hal yang tak mungkin dapat mrubahnya
dan sekarang sayapun jadi terdampar di batam tapi alangkah naifnya aku,bila menyesalkan sesuatu hal yang tak mungkin dapat mrubahnya
engglis:..
In the reign of SOEHARTO precisely at the end of tahun90an I just quit working
and that's when I met a new friend who introduced fellow workers and we often bermain2 story short we too become familiar I do not menduka my new friend that turned out to work in Batam, while I dijakarta because rarely orangn jakarta work / migrate, because usually a lot of people outside Jakarta kejakarta come looking for a job, but that's where my initial dibatam stranded and settled, in principle, I am just trying to find his fortune alone .... day after day week after week and even year after year I have not been getting the results I expected, but somehow I am still violence despite the many suggestions from the family to return kejakarta and assembled again as before.
And finally in 92/94 place where I was born and grew up exposed to eviction is now a container port which is said LARGEST in Asia.
and I regret is that simple rule mengeksikusi population that have long been born and raised there
and now I became so stranded in Batam, but it would be naive to me, when deplore something that could not mrubahnya


jangan pernah menyerah
BalasHapus